21 Maret 2009

Seni Penulisan Kitab di Jawa (Kajian Awal)

Ali Akbar

[Ilustrasi menyusul]

Pendahuluan
Kajian terhadap seni penulisan naskah-naskah Nusantara belum banyak dilakukan para sarjana.[1] Dalam tradisi penulisan naskah berhuruf Arab di Jawa, baik berbahasa Arab maupun Jawa (Pegon), terdapat beberapa hal yang menarik, yang mencakup permulaan, tubuh, dan akhir teks. Para penyalin mengembangkan tradisi sendiri, dengan pengaruh tradisi lokal. Kajian awal ini terutama didasarkan pada naskah-naskah koleksi Michael Abbott[2]―seorang kolektor naskah dan benda seni, tinggal di Adelaide, Australia―yang menurut pengakuannya ia beli dari Madura. Sebagian naskah tersebut kini disimpan di Art Gallery of South Australia, Adelaide. Di samping itu, kami sempat melihat sejumlah naskah berkode AW koleksi Perpustakaan Nasional RI, Jakarta[3], yang ternyata mempunyai banyak kesamaan dengan naskah-naskah Abbott. Kesamaan itu menyangkut beberapa ciri penghiasannya, kertas dluwang yang digunakan, maupun judul-judul teks dalam kitabnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa keduanya berasal dari tradisi yang sama, yaitu pesantren.[4]

Permulaan teks
Pada permulaan teks, para penyalin naskah membuat semacam hiasan. Bentuk yang paling sering digunakan adalah segi empat yang dipadu dengan bentuk segi tiga di atasnya (lihat Gambar 1, 2, 3, 4, AW.108, 111, 118). Kadang-kadang hanya berupa segi empat, dengan hiasan kecil di masing-masing keempat sudutnya (Gambar 5, AW.121), atau dipadu dengan bentuk-bentuk segitiga di atasnya, menyerupai mahkota (AW.124). Bidang-bidang tersebut dihias dengan semacam sulur atau dedaunan (Gambar 2, AW.111), motif papan catur (Gambar 10), atau dihias dengan tulisan, seperti La ilaha illa Allah dan Bismillah (Gambar 1), dan Basmalah (Gambar 7, 8), atau terkadang berupa judul kitab (Gambar 6, AW.108). Karakter tulisan yang digoreskan para penyalin atau iluminator naskah tersebut sangat unik. Kata “Allah” dalam Bismillah (Gambar 1) digayakan dengan lima lengkungan, yang secara ilma’i tentu kurang tepat. Bentuk ini mengesankan adanya pembebasan huruf, dan huruf-huruf tersebut secara sangat fleksibel menyesuaikan dengan ruang yang tersedia. Penyederhanaan tulisan “Allah” juga terlihat pada Gambar 7, 8, yang berupa lengkungan, tidak peduli dengan kelaziman tulisan. Demikian pula dengan kata ar-rahman, ar-rahim, dan huruf-huruf lainnya kotak ini. Warna yang digunakan terutama adalah merah, kuning, hitam, dan kadang-kadang coklat dan biru ― semuanya mencerminkan kesederhanaan. Sebelum permulaan teks, tulisan Bismillah ar-rahman ar-rahim (Basmalah) selalu mendapat perhatian istimewa. Para penyalin berusaha menulis Basmalah dengan indah, baik dalam gaya tulisan maupun warna, dan tampak selalu ditulis dalam satu baris. Kata pertama dalam teks juga mendapat perhatian penting, biasanya kata i’lam (ketahuilah), yang kadang-kadang ditulis satu baris, dengan ketebalan tertentu, atau pemanjangan garis setelah huruf ‘ain. (Penekanan semacam ini juga terdapat dalam naskah-naskah dari Aceh, pada huruf kaf dalam kata al-kalam dan kumulai di permulaan teks).

Tubuh teks
Pada tubuh teks, karena dalam naskah-naskah klasik biasanya tidak terdapat pembagian bab ataupun paragraf baru, pembagian wacana dilakukan dengan penekanan (highlight) pada kata-kata tertentu―yang paling populer dalam bentuk pilinan― misalnya dalam kata bab, fasal, mas’alah, qala, amma (lihat Gambar 14-22), atau al-far’u (bagian) (Gambar 23). Penekanan tersebut dengan beberapa cara, yaitu pewarnaan, dekorasi, atau pilinan huruf. Pilinan huruf-huruf tertentu dalam teks berhuruf Arab merupakan hal yang sangat populer, bahkan di seluruh kawasan Nusantara. Namun dalam naskah-naskah yang berasal dari Jawa, tradisi tersebut tampak lebih bebas dan atraktif, mungkin karena mendapat pengaruh dari tradisi tulis huruf Jawa. Pilinan kata-kata tertentu tersebut mempunyai beberapa fungsi, yaitu (1) penekanan kata-kata tertentu; (2) permulaan wacana [kata mas’alah, fasal, bab]; (3) permulaan kalimat [kata amma, qala]; dan (4) akhir teks [kata tammat].

Akhir teks
Pada akhir teks, kata wallahu a’lam (Allah lebih mengetahui), atau wallahu a’lam bis-sawab[5] (Allah lebih mengetahui yang benar)―yang dapat dikatakan hampir selalu mengakhiri teks―mendapat perhatian khusus, dengan “eksploitasi” huruf ‘ain. “Mulut” huruf ‘ain biasanya dibuat cukup besar, sehingga “mencaplok” kata wallahu (Gambar 24, 26, AW.107, 108, 110, 111, 118, 124). Ada kesan bahwa tulisan tersebut telah menjadi semacam “komposisi” tertentu, sehingga menjadi semacam “ritual” untuk mengakhiri teks. Hal itu tampak pada bentuk tulisan yang kadang-kadang sudah tidak mempedulikan satuan hurufnya, yang semestinya terdiri atas alif-‘ain-lam-mim, namun huruf lam kadang-kadang tidak lagi ditulis (Gambar 26, AW.108, 118). Pada akhir teks kadang-kadang juga terdapat tailpiece berupa hiasan sederhana, dalam berbagai bentuk (Gambar 27, 28, 29). Bentuk bingkai iluminasi tersebut dibuat simetris, mengikuti panjang-pendek baris tulisan.*

Daftar Pustaka
Behrend, T.E. 1996. “Textual Gateways: The Javanese Manuscript Tradition” dalam Ann Kumar and John H. McGlynn. 1996. Illuminations: The Writing Traditions of Indonesia. Jakarta: Lontar Foundation - New York and Tokyo: Weatherhill, Inc. Behrend, T.E. 1998. Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 4: Perpustakaan Nasional RI. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Ecole francaise d’Extreme-Orient. Behrend, Tim. 2005. “Frontispiece Architecture in Ngayogyakarta: Notes on Structure and Sources” Paris: Archipel 69, pp. 39-60. Gallop, Annabel Teh. 2004. “Beautifying Jawi: Between Calligraphy and Palaeography”, Second International Conference on Malay Civilisation: Malay Images, Kuala Lumpur, Universiti Pendidikan Sultan Idris, 26-28 February.

[1] Di antara sedikit yang mengkaji aspek tulisannya, lihat Annabel Teh Gallop, “Beautifying Jawi: Between Calligraphy and Palaeography”, Second International Conference on Malay Civilisation: Malay Images, Kuala Lumpur, Universiti Pendidikan Sultan Idris, 26-28 February 2004.
[2] Semua gambar dalam lampiran makalah ini adalah foto naskah koleksi Michael Abbott.
[3] Gambar naskah berkode AW tidak saya lampirkan, dan dapat dilihat di Perpustakaan Nasional RI.
[4] Abdurrahman Wahid (AW) pada saat penyerahan naskah menyatakan bahwa naskah-naskah tersebut (semuanya 67 buah naskah) berasal dari para ulama, santri, dan anggota NU. Lihat “Kata Pengantar” dalam TE Behrend, Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 4: Perpustakaan Nasional RI (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Ecole francaise d’Extreme-Orient), hlm. xvi.
[5] Kata ini sangat lazim digunakan di seluruh dunia Islam, baik oleh masyarakat awam maupun kaum intelektual, termasuk Ibn Khaldun dalam al-Muqaddimah. Dalam alam Melayu digunakan pula dalam sastra hikayat, untuk menandai akhir setiap babak cerita, seperti dalam Hikayat Indraputra.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar